Recent Updates RSS Toggle Comment Threads | Tombol Pintas

  • placeshare 5:04 pm pada 4 February 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    Pesan Kepada Koruptor 

    Tikus-tikus nakal…
    Mencari makan
    Dalam kegelapan
    Membuat yang lain… Mati kelaparan

    Koruptor…
    Mengambil uang rakyat
    Hingga rakyat Indonesia
    Mati kelaparan

    Anda tak pernah makan
    Tak pernah makan dengan nasi
    Anda hanya melahap uang

    Mungkin itu kau anggap lezat
    Tapi…
    Di mata kami
    Kami melata… merayap… menggeliat…
    Seperti cacing kelaparan

    Pak, bu…
    Tolong ganti makanan anda
    Kami sangat membutuhkan makanan anda
    Bukan untuk dimakan
    Tetapi hanya untuk mencari sesuap nasi

    Jangan makan uang negara
    Jangan makan uang kami…
    Gantilah makanan anda
    Dengan nasi seutuhnya

     
  • placeshare 5:02 pm pada 4 February 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    Kupu-Kupu Jalanan 

    Kupu-kupu jalanan…
    Engkau terbang
    Menemani kupu-kupu lain
    Mencari madu… untuk dimakan

    Kupu-kupu jalanan
    Berbeda dengan kupu-kupu lain
    Engkau dekil, kotor, bau
    Hari-harimu kau isi dengan meminta-minta
    Pada kupu-kupu dermawan

    Kupu-kupu jalanan
    Anak-anak jalanan…
    Mereka menderita
    Tinggal di kolong jembatan

    Ditemani nyanyian nyamuk
    Setiap hari dipalak preman
    Mereka hanya meminta, meminta belas kasih…
    Dari bapak dan ibu yang dermawan

    Tidur dengan alas kardus
    Bisa belajar tenang…
    Dan punya rumah yang berjendela
    Itu sudah lebih dari cukup

    Pak… bu… tolonglah mereka
    Jangan biarkan mereka hidup di tengah-tengah kemiskinan
    Buatlah mereka…
    Menjadi seperti kupu-kupu yang lain…

    Bukan kupu-kupu jalanan…

     
  • placeshare 5:00 pm pada 4 February 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    Harapan Untuk Indonesiaku 

    Indonesia kau kucinta…
    Indonesia tempatku dilahirkan
    Indonesia tempatku dibesarkan
    Tempat di mana bahan pangan melimpah ruah

    Tapi kenapa…
    Kenapa masih banyak orang yang tidak dapat pangan?
    Tidak dapat keadilan
    Dihina, dilecehkan, dikucilkan

    Pak, bu, kapan engkau bisa membenahi kemiskinan di negara Khatulistiwa ini?
    Engkau katakan besok…
    Tapi… apa hasilnya?
    Tetap saja…
    Malah makin parah

    Padahal bapak dan ibu dipercaya
    Dipercaya untuk membenahi bangsa Indonesia
    Dipercaya untuk mengatasi kemiskinan
    Pak, bu, saya harap engkau jangan asal janji

    Tepatilah janjimu
    Benahilah bangsa Indonesia
    Katakanlah kepada para koruptor
    Jangan makan makan uang kami…
    Gantilah makanan anda dengan nasi

     
  • placeshare 4:59 pm pada 4 February 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    Ramuan Berharga 

    Tahukah kamu apakah ramuan berharga itu?
    Yaitu ramuan yang bisa buat orang saling cinta

    Cinta kepada Allah
    Cinta kepada makhluk Allah
    Cinta kepada dunia
    Cinta kepada akhirat

    Tahukah kamu apa yang menjadi ramuan berharga itu?
    Ramuan berharga adalah Iman
    Ramuan berharga adalah Islam
    Ramuan berharga adalah Ihsan

    Iman, Islam, Ihsan
    Kita berpegang teguh terhadap ketiganya
    Tetapi apakah saat ini…
    Masih ada orang yang berpegang teguh pada ketiganya?

    Aku tak bisa menjawabnya
    Hanya Allah yang tahu
    Tetapi aku tahu…
    Bahwa orang yang berpegang teguh pada Iman, Islam, dan Ihsan

    Akan mendapat kasih sayang yang lebih dari apapun
    Kasih sayang dari makhluk-Nya
    Dan tentu kasih sayang dari Allah

     
  • placeshare 4:57 pm pada 4 February 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    Pahlawanku 

    Jam berdentang…
    Ku ambil jas merahku…
    Baju yang mengingatkanku…
    Dengan para pahlawan Indonesia

    Mulai kakiku melangkah…
    Detik demi detik
    Menit demi menit
    Sampailah aku di tempat yang bersejarah

    Makam pahlawan…
    Itulah tempat dimana aku menginjakkan kaki
    Siapa yang dimakamkan di situ?
    Tentu saja para pahlawan
    Pahlawan Indonesia

    Kusinggahi sebuah nissan
    Ahmad Yani…
    Pahlawan revolusi…

    Ia mempertahankan Sang Saka
    Supaya tetap berkibar…
    Diceburkan ke lubang buaya
    Oleh PKI…

    Partai Komunis Indonesia…
    Pengkhianat bangsa Indonesia
    Aku benci mereka…
    Membunuh bangsanya sendiri

    Akan selalu kuingat…
    Ahmad Yani…
    Pahlawan revolusi…

    Aku akan melanjutkan perjuangan Ahmad Yani
    Melawan orang-orang penjajah Indonesia
    Melawan pengkhianat Indonesia
    Agar Indonesia tetap merdeka
    Agar Indonesia tetap jaya…

     
  • placeshare 4:55 pm pada 4 February 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    Dari Bung Karno Untuk Indonesia 

    Malam ini…
    Saat ini…
    Bung Karno datang dalam mimpiku
    Menceritakan duka bangsa Indonesia

    Melawan penjajah dari Jepang
    Melawan penjajah dari Belanda
    Melawan penjajah dari Portugis

    Membaralah amarahku seperti api yang membara
    Api yang tak kan pernah padam
    Walaupun sudah disiram
    Tetap akan tersimpan di hati
    Selamanya…

    Ingin ku balas dendamku…
    Dendam bangsa Indonesia
    Tapi apa yang bisa kuperbuat?
    Aku belum bisa membedakan antara barat dan timur
    Belum bisa membedakan yang baik dan yang buruk

    Tapi buru-buru kupupus… Kuhapus dendamku
    Aku ingat pesan bung Karno
    “Jangan taruh amarahmu di hati
    Kuburlah dalam-dalam amarahmu”

    Karena semua itu akan membawa bangsa Indonesia…
    Ke dalam keterpurukan…

     
  • placeshare 4:52 pm pada 4 February 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    Diam Diam Dari Bintang 

    Aku berdiri di sini
    Di tengah sepi
    Dibalik dedaunan rimbun
    Dengan wajah yang acak-acakkan
    Tak beraturan

    Terdiam di tengah sepi
    Mengintip sekerumunan manusia
    Dengan ekspresi wajah berbeda
    Tanpa bisa maju selangkah
    Tak menyapa
    Atau hanya sekedar tatap muka

    Aku ini apa?
    Aku tak berdaya
    Tak bisa apa-apa
    Apakah ada yang ingin?
    Apakah ada yangi ingin melihat wajah seperti ini???
    Berantakkan
    Awut-awutan

    Aku hanya terdiam
    Di malam gelap
    Tak ada cahaya lentera
    Hanya ada sebuah bintang
    Yang setia menemani

    Aku terus berharap
    Pada bintang
    Terlebih pada yang menciptakannya
    Aku terus mengintip dari sini
    Diam diam dari bintang

     
  • placeshare 11:32 am pada 30 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: Moon Geun Young,   

    Romantic Friendship-Part II-Moon Geun Young Prolog 

    Seorang wanita berseragam SMA memegang sebuah pensil, dengan wajah tanpa ekspresi mencoret-coret kertas beralaskan kardus, tepatnya melukis, coretannya perlahan-lahan berubah menjadi gambar sebuah wajah yang telah khas di SMAnya, Shin Hwa International School, Chun Jung Myung, salah satu anggota The Prince, lelaki tertampan, terpopuler, terkeren se-SHIS, bahkan se kota Seoul.

    Ya, wanita bernama Moon Geun Young atau yang akrab di panggil Geun Young ini bersekolah di SHIS, dia berasal dari kalangan menengah ke bawah, ayah ibunya bekerja sebagai buruh pabrik, adiknya pun bersekolah di sekolah biasa, ia masuk ke SHIS 3 tahun lalu saat SHIS sedang promosi besar-besaran.

    Flash Back:

    Saat itu SMP Hwang Ju sedang mengirim 5 orang muridnya untuk mengikuti lomba melukis tingkat nasional di istana presiden Korea Selatan, dengan tema ‘Sosok Pemimpin’ peserta harus melukis sosok peemimpin idolanya, dengan melukis wajah dan sebagian tubuh dari tokoh pemimpin tersebut.

    Saat itu kerabat grup Shin Hwa corp, JK group, sedang mengadakan kunjungan kerja ke istana presiden.

    Kali ini ada masalah, sang asisten direktur JK Group melihat lukisan peserta yang sudah jadi, semua ia lihat dengan seksama, ia terbelak ketika meihat sebuah lukisan bergambar seorang pria yang mata kanannya menghadap ke kanan atas dan mata kirinya menghadap ke kiri bawah, ia berbalik untuk melihat siapa yang melukis lukisan itu, seorang wanita cantik berambut panjang lurus dengan pipi yang lucu menatap sekeliling dengan tampang polosnya. “Hmmm…”  sang asisten berdehem pelan, tak tahu apa yang dipikirkan olehnya.

    Lukisan dikumpulkan, para juri menilai, para peserta istirahat sejenak.

    Tiba saatnya pengumuman, juara 3… juara 2… Dan pada saat juara pertama, ditunjukkan lukisannya, semua mata terbelak, “Wae? Waeyo? Ada apa dengan lukisan itu?” seorang bapak-bapak berjas berdiri dari kursi, diikuti oleh tanya penonton lain yang tentunya tamu terhormat, seorang juri menempelkan jari telunjuknya ke telapak tangannya, pertanda perintah untuk diam. Semuanya duduk kembali.

    “Ada yang ingin bertanya?” kata juri itu lagi, seorang lelaki setengah baya yang tak lain adalah asisten direktur Bok Hwang mengangkat tangan, “Hmm… silakan.” Kata juri itu, bapak itu pun berdiri, “Dengan hormat. Kenapa lukisan seperti itu bisa kau jadikan pemenang I? Bukankah lukisan seperti itu sama saja menjatuhkan dan meremehkan derajat pemimpin?” sanggah san asisten, juri berdehem, Geun Young tersentak karena tahu bahwa lukisan itu adalah miliknya, walaupun ia pemenangnya, ia tidak tenang karena banyak yang mencemoohnya.

    Juri berdehem pelan, lalu tersenyum lagi, “Noona Moon Geun Young, bisakah anda menjelaskan tentang lukisan anda ini?” tanya juri itu pada Geun Young, Geun Young dengan wajah cemas Geun Young memberanikan diri untuk berdiri maju ke samping lukisannya. Geun Young tersenyum, “Hmm… Dengan hormat, saya akan menjelaskan lukisan yang saya buat ini, tapi sebelumnya, apa yang membuat tuan ragu dengan lukisan saya?” tanya Geun Young mencoba bersikap dewasa, sang asisten menatap kembali lukisan itu, “Noona, apakah ini sosok pemimpi yang anda inginkan? Kenapa anda membuat lukisan manusia dengan mata JULING? Bukankah itu sama saja dengan meremehkan seorang pemimpin?” tanya sang asisten bertubi-tubi.

    Geun Young tersenyum tipis, “Pertanyaan pertama, jawabannya… NE! Pertanyaan kedua, satu mata melihat ke atas atau tepatnya ke langit dan satu mata melihat ke bumi, tepatnya ia adalah seorang pemimpin yang adil, tak membedakan antara yang kaya dan yang miskin, pemimpin yang memperhatikan rakyatnya, memperlakukan rakyatnya setara dan tidak membeda-bedakan antara yang kaya dan miskin, itulah pemimpin yang aku inginkan. Untuk pertanyaan ketiga kurasa telah terjawab.” Geun Young berhenti berbicara, semua orang yang menyaksikan ‘pidato singkat’nya tercengang, ada yang berbisik-bisik, ada yang mengangguk, berdehem panjang, tak tahu apa yang mereka pikirkan, sang asisten direktur pun hanya manggut-manggut tanda mengerti, “Kurasa sudah jelas siapa pemenangnya.” Ucap sang asisten direktur, semua penonton dan peserta yang ada di ruangan itu mengangguk tanda setuju. Geun Young tersenyum. Anak ini… Hmm… Tak salah aku memilihnya… Ucap asisten direktur dalam hati.

    ******

    Pengumuman kelulusan telah selesai, Geun Young mendapatkan nilai memuaskan, ia pulang ingin memberitahukan kelulusannya pada orang tuanya.

    Di rumahnya, orang tuanya berteriak senang, karena tadi pagi seseorang yang engaku sebagai asisten direktur JK Group menawarkan beasiswa sekolah bertaraf internasional di Shin Hwa IS karena bakat melukis yang Geun Young punya, tentu saja mereka mau, Geun Young pun ikut senang.

    ******

    Hari pertama Shin Hwa IS tak begitu berarti, bahkan sangat buruk, siswa/i SHIS mulai gencar mengerjainya, walau hanya dengan kata-kata kasar.

    Tapi ada seorang pria yang membuatnya bertahan di SHIS, Chun Jung Myung, walau hanya sekali bertemu, Jung Myung yang tak lain adalah putra pemilik JK group menyemangatinya untuk bertahan.

    Namun sejak itu sifat Geun Young pun agak berubah, dari semula gadis manis yang ceria menjadi gadis dingin tanpa ekspresi yang tak peduli lingkungannya.

    End of Flash Back

    Sekarang ia sudah selesai dengan lukisannya, ia menatap lukisannya tanpa ekspresi, ia menengok ke belakangnya sambil membetulkan rambutnya yang acak-acakkan karena terkena hembusan angin. Meletakkan lukisannya di pinggir kolam air mancur  tempatnya melukis

    Tak ada siapapun, hanya air mancur, dan… lukisannya! Di mana lukisannya? Ia berdiri berkeliling kolam, ya, menyusuri kolam untuk mencari lukisannya, karena ia yakin tak akan ada yang mengambil lukisannya, hanya aliran air kolam yang hampir mencapai bibir kolam pasti membuat lukisan itu terbawa.

    Lukisan… lukisan… lukisan… Ah! Itu dia! Tapi lukisan itu dipegang seorang wanita cantik berambut panjang lurus, Geun Young terdiam melihatnya, ia menatap wanita itu, ia cantik… gumamnya, yah, walaupun dingin, tapi di hati kecilny ia wanita yang sangat lembut.

    Ia bangun dari kediamannya dan menghampiri wanita itu, lalu mengambil lukisannya dengan agak kasar, seraya meninggalkan wanita itu, sejenak Geun Young memasang tampang bersalah, sangat merasa bersalah, tapi buru-buru ia membuangnya dan kembali ke kelasnya.

    Lagi-lagi ‘kesialan’ datang, “Aw…” Geun Young menabrak seorang wanita, lukisan dan kertas milik wanita itu jatuh, “Oo… mianhe… Jeongmal mianhaeyo..” kata wanita itu sambil mengambilkan lukisan milik Geun Young, “Eee…” wanita itu menatap lukisan itu, “Ini…” belum wanita itu mengambil lukisan itu, Geun Young mengambilnya duluan dan langsung meninggalkan wanita itu. Wanita itu hanya menatap heran.

    Ah, sial sekali aku hari ini… Ucap Geun Young dalam hati diiringi desahan panjangnya sambil terus berjalan menuju kelasnya.

     

     
  • placeshare 8:41 pm pada 29 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: SDIT Al-Kautsar   

    Penghargaan Yang Rusak 

    Ini kisah nyataku, yang tidak ingin aku ulangi…

    Dibaca yah… ^^

    Hari itu, pertengahan bulan Agustus di tahun  2009, aku lupa tanggalnya. Aku masih menduduk i bangku kelas 5 SD. Aku bersma dengan seorang adik kelasku, Tresna Sulistina, mewakili SDIT Al-Kautsar sekaligus kecamatan Cikarang  Timur dalam perlombaan baca puisi tingkat SD, SMP, dan SMA se-Kabupaten Bekasi. Perlombaan itu diadakan di gedung bupati Bekasi, aku tidak tahu nama gedungnya, karena sangat banyak gedung bupati di daerah Delta Mas itu.

    Jam tujuh pagi aku dan Tresna sudah berkumpul di teras sekolahku. Kami diberi pengarahan tentang  apa saja yang harus dilakukan di gedung bupati. Aku membawakan sebuh karya dari sastrawan favoritku, Chairil Anwar, dengan judul AKU. Sedangkan Tresna membawakan juga karya dari Chairil Anwar yang berjudul DIPONEGORO. Pak Rustam dan pak Fauzan mengantar kami ke sana. Sedangkan guru bahasa Indonesiaku, pak Endang  Ade Rustandy  sudah sampai ke sana terlebih dahulu karena harus menemani murid-murid SMAnya. Pak Ade memang mengajar di sebuah SMA Negeri di Cikarang Utara. Beberapa muridnya pun terpilih untuk mengikuti perlombaan itu.

    Aku segera berangkat. Bismillahirohmanirrohim… Dengan berbekal pengalaman lomba-lomba yang  pernah aku ikuti sebelumnya, aku dan Tresna pun berangkat.

    Aku sudah sampai di gedung bupati  Bekasi, gedungnya sangat luas. Aku bertemu dangan pak  Ade dan murid-muridnya, kami berkenalan, dan kami pun cepat akrab. Aku mengobrol dengan kakak-kakak yang aku pun tidak tahu namanya. Mereka semua membacakan puisi karya Chairil  Anwar yang berjudul KARAWANG-BEKASI. Memang dalam perlombaan ini semua peserta membawakan karya-karya dari Chairil Anwar. Kami menunggu lama, sudah satu jam lebih acaranya belum dimulai. Untuk menghilangkan jenuh kami melihat perlombaan menyanyi lagu tradisional, tempatnya tepat di seberang gedung tempat kami akan berlomba.

    Setelah menunggu satu setengah jam, akhirnya perlombaan dimulai juga. Pada saat itu aku mendapat  giliran ke-4. Cara perlombaannya adalah nomor peserta SD, SMP, SMA yang sama dipanggil, SD nomor 1, SMP nomor 1, dan  SMA nomor 1. Mereka  maju ke panggung, tapi siswa SD akan tampil terlebih dahulu, lalu stelah itu SMP, dan SMA. Kebanyakan dari siswa SMP dan SMA memilih untuk mebawakan puisi KARAWANG-BEKASI.

    Siswa dari nomor peserta 1 sampai dengan 3 sudah tampil. Kini giliranku untuk tampil,  puisi AKU karya Chairil Anwar pun aku bacakan dengan lantang.

    AKU

    KARYA: CHAIRIL ANWAR

    Kalau sampai waktuku…

    Ku mau tak seorang kan merayu…

    Tidak juga kau…

    Tak perlu sedu sedan itu…

    Tak perlu sedu sedan itu…

    Tak perlu sedu sedan itu…

    Aku ini binatang jalang…

    Dari kumpulan yang terbuang…

    Walau peluru menembus kulitku…

    Aku tetap meradang…

    Menerjang…!!!

    Luka dan bisa ku bawa berlari…

    Berlari…

    Hingga hilang pedih perih…

    Hingga hilang pedih peih…

    Hingga hilang pedih perih…

    Dan aku akan lebih tidak peduli…

    Aku mau… hidup… seribu tahun lagi…

    Ahh… akhirnya selesai juga… aku lega, aku menunggu peserta dari SMP dan SMA tampil di pinggir panggung. Setelah mereka selesai, aku langsung turun dari panggung sederhana yang hanya terbuat dari karpet merah yang tebal dan besar dan di pinggirnya diberi tanaman hias itu.

    “Bagus banget…” “Keren…” “Dua jempol untuk kamu…” “Pasti kamu yang menang…” berbagai pujian datang dari kakak-kakak SMA dan guruku. Aku hanya tersenyum dan mengucapkan “Amiinn…”. Ada sekitar  20 peserta dari masing-masing tingkat. Aku menunggu Tresna dan kakak-kakak yang lain tampil sembari memakan jajanan yang kubeli sebelum perlombaan dimulai. Mayoritas dari siswa SD memilih membawakan puisi Chairil Anwar yang berjudul DIPONEGORO, hanya aku dan beberapa siswa lainnya saja yang membawakan puisi AKU.

    Setelah Tresna selesai tampil, kami diajak makan oleh pak Rustam dan pak Fauzan, kami hanya makan jajanan yang dijual di depan gedung tempat kami berlomba. Pak Ade masih menemani beberapa murid SMAnya yang belum tampil. Sekitar jam 14.30, kami harus kembali ke sekolah, kami tidak menunggu pengumuman pemenangnya, karena akan diumumkan setelah semua peserta selesai tampil, sedangkan jam 14.30 saja masih banyak peserta yang belum tampil.

    Keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Saat kami berbaris di lapangan untuk ikrar siswa SDIT Al-Kautsar, pak Rustam sebagai kepala sekolah mengumumkan bahwa aku adalah pemenang  I lomba membaca puisi tingkat kabupaten Bekasi, aku berucap alhamdulillah berkali-kali, aku sangat senang, sedangkan Tresna mendapat juara harapan III, aku diprintahkan oleh bu Nur Sirryana Handayani, wali kelasku saat kelas 5, untuk menaruh trophi  yang sangat besar itu di meja guru di kelasku. Aku belajar seperti biasa. Dari pelajaran pertama aku merasa kalau para guru dan teman-temanku merasa terganggu dengan trophiku yang memang besar itu. Saat istirahat ke-2 sebelum sholat dzuhur, dengan izin bu Nur aku memindahkan trophiku itu ke belakang meja guru di kelasku yang memang kuletakkan di pojok ruangan dekat jendela.

    Pelajaran telah usai, kami hanya harus menunggu adzan ashar untuk sholat ashar berjama’ah. Aku dan teman-teman mengobrol di jendela pojok kelas dekat trophiku, di jendela itu biasanya angin berhembus, kami mengobrol, bercanda, tertawa, sampai akhirnya… krekkk… aku coba menoleh ke arah suara itu, dan… trophiku!!! Ya Allah… Trophiku patah! Bagaimana ini…? Teman-temanku juga kaget, salah seorang temanku melaporkan kejadian itu pada bu Nur. Bu Nur dan guru-guru lainnya terlihat kecewa, tapi mereka tetap tersenyum, itulah guru-guruku. Aku sendiri tidak tahu kenapa trophi itu bisa patah, beberapa temanku meminta maaf karena mereka merasa bersalah, aku hanya tersenyum dan mengatakan, “Bukan salah kalian…”. Sejak kejadian itu, trophi itu tak pernah diberikan kembali kepadaku hingga saat ini.

    Aku hanya tersenyum pahit saat mengingat kejadian itu. Astaghfirullah…

    Nah…

    Gimana? Tragis ya?

    Semoga kalian bisa ambil hikmah dari pengalamanku ini…

    Hhh…

     
  • placeshare 8:23 pm pada 29 December 2010 Permalink | Balas
    Tags: , Super Junior, Yesung   

    Yesung Super Junior-It Has To Be You 

    loneuldo nae gieogeul ttarahemaeda

    igil kkeuteseo seoseongineun na

    dasin bol sudo eomneun niga nareul butjaba

    naneun tto i gireul mutneunda

    Aneol bogo sipdagot

    toango sipdago

    jeo haneulbomyeo gidohaneun nal

    niga animyeon andwae

    neo eobsin nan andwae

    na ireoke haru handareul tto illyeoneu

    na apado joha

    nae mam dachyeodo joha nan

    geurae nan neo hanaman saranghanikka

    na du beon dasineun

    bonael su eopdago

    na neoreul itgo salsun eopdago

    niga animyeon andwae

    neo eobsin nan andwae

    na ireoke haru handareul tto illyeoneul

    na apado johanae

    mam dachyeodo joha nan

    geurae nan neo hanaman saranghanikka

    nae meongdeun gaseumi

    neol chajaorago

    sorichyeo bureunda

    neon eodinneungeoni

    naui moksori deulliji annni

    naegeneun

    una dasi saradom

    yeot beoneul taeeonado

    harudo niga eobsi sal su eomneun na

    naega jikyeojul saram

    naega saranghal saram nan

    geurae nan neo hanamyeon chungbunhanikka

    neo hanaman saranghanikka

     

     
c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
reply
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
shift + esc
cancel
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.